Tahu Menolaj, Kini Banyak Orang Amerika yang Ingin Dapat Vaksin Covid-19

Tahu Menolaj, Kini Banyak Orang Amerika yang Ingin Dapat Vaksin Covid-19

Bonus harian di Keluaran HK 2020 – 2021.

Pandangan. com – Tujuh dari 10 orang Amerika mengucapkan mereka “pasti atau mungkin” memperoleh vaksin Covid-19, ungkap sebuah survei baru.

Statistik baru 71 persen mengatakan bahwa mereka akan mendapatkan vaksin. Padahal, menurut jajak pendapat dibanding Kaiser Family Foundation, sebelumnya cuma 63 persen yang ingin memperoleh vaksin.

Organisasi penelitian kesehatan nirlaba tersebut mensurvei 1. 676 orang dewasa di tengah kekhawatiran dari para ahli bahwa tidak cukup orang Amerika yang mempercayai vaksin virus corona.

Dr. Anthony Fauci, pakar penyakit menular terkemuka di negara itu, mengatakan sekitar 75 hingga 80 komisi populasi perlu divaksinasi untuk menyentuh kekebalan kawanan.

Mengucapkan Juga: Ibu Tentu Covid-19, Bagaimana Nasib Raffi Ahmad dan Keluarga?

Dua puluh tujuh persen dari mereka yang baru-baru ini disurvei mengatakan bahwa itu “pasti atau mungkin” tidak mau divaksinasi.

Ilustrasi vaksin COVID-19. [Shutterstock]
Ilustrasi vaksin COVID-19. [Shutterstock]

“Kelompok ini secara tidak proporsional terdiri dari Republik dan orang-orang yang tidak lebih daripada pendidikan tingkat sekolah menengah, ” kata Kaiser dalam sebuah pernyataan.

Karakter kulit hitam Amerika, orang dengan tinggal di daerah pedesaan dan Republik termasuk yang paling lengah untuk mendapatkan suntikan – namun alasan mereka bervariasi, menurut petunjuk itu.

“Beberapa orang dewasa kulit hitam ragu-ragu dengan alasan yang bisa berganti dengan lebih banyak informasi, ” kata laporan itu.

Sekitar 71 upah dari mereka yang mengatakan mereka tidak akan mendapatkan vaksin mengutarakan mereka khawatir tentang kemungkinan buah samping, sementara sekitar 50 obat jerih dari kelompok tersebut takut itu dapat tertular virus.

Baca Juga: Positivity Rate Corona RI Jadi 18, 1 Persen, Satgas: Sangat Merusuhkan

Untuk Partai Republik, 57 persen dari mereka yang disurvei mengutip “risiko Covid-19 yang dibesar-besarkan” sebagai alasan utama mereka pasti atau mungkin tidak akan mendapatkan vaksin.