Penelitian Sebut Pasien Covid-19 Bergejala Ringan Berisiko Alami Masalah Kejiwaan

penelitian-sebut-pasien-covid-19-bergejala-ringan-berisiko-alami-masalah-kejiwaan-1

Bonus harian di Keluaran SGP 2020 – 2021.

Suara. com – Virus corona Covid-19 bisa menyerang seseoranh dengan gejala ringan had parah. Tapi, sebuah penelitian menemukan pasien virus corona dengan gejala ringan meskipun bisa mengalami masalah kejiwaan jangka panjang.

Beberapa gejala virus corona mungkin juga lebih umum pada itu dengan gejala ringan daripada pasien Covid-19 yang menjalani perawatan di rumah kecil.

Penulis utama, Dr Jonathan Rogers dalam University College London, mengutarakan gejala neurologis dan psikiatri adalah kondisi yang biasanya menyerang pasien virus corona dengan gejala parah. T

api sebaliknya, ia justru menemukan gejala ini nampak lebih umum pada urusan infeksi virus corona rendah.

Baca Juga: Penyintas Covid-19 Justru Terlindungi daripada Infeksi Ulang Selama 10 Bulan, Ini Temuan Terampil!

Tim penelitian sejak London ini berusaha mencaritahu penyebab infeksi virus corona Covid-19 bisa mempengaruhi kesehatan mental dan otak, yang menyebabkan gejala psikiatri serta neurologis.

Mereka mengumpulkan petunjuk dari 215 penelitian dalam 30 negara, yang membabitkan 105. 000 pasien virus corona bergejala berat & ringan.

Ilustrasi Virus Corona (Unsplash/CDC)

Pada segenap kelompok, 23 persen orang mengalami depresi dengan kebiasaan antara 12 hingga 40 persen. Sementara itu, 16 persen mengalami kecemasan secara data berkisar antara enam dan 38 persen.

Para peneliti mengatakan gangguan psikiatri ini nampaknya sangat lazim. Tapi, mereka tidak mendokumentasikan beberapa harmoni pasien yang sudah mempunyai riwayat penyakit mental.

Dr Rogers mengatakan bahwa pengkajian ini tidak melihat sungguh lama masalah ini bertahan, tetapi sebuah penelitian terisolasi yang belum diterbitkan oleh timnya telah mencari cakap hal tersebut.

Baca Juga: Anosmia pada Pasien Covid-19, Bisakah Dicegah?

Pada pasien virus corona Covid-19 yang pulih, kebiasaan depresi dan kecemasannya nampak sedikit lebih rendah daripada fase akut untuk depresi yang hanya 13 upah, meskipun tidak untuk kebingungan yang mencapai 19 komisi.

“Namun, kondisi ini nampaknya tidak membaik seiring waktu. Jadi, sepertinya orang positif setelah keluar dari vila sakit tapi mereka mungkin terjebak dengan gejala ini selama beberapa bulan, ” Dr Rogers dikutip dari The Sun.

Studi ini serupa menemukan bahwa kehilangan indra penciuman adalah gejala neurologis yang paling umum, setidaknya mempengaruhi 43 persen orang.

Sekitar 40 persen karakter mengalami kelemahan, 38 obat jerih mengalami kelelahan, 37 komisi kehilangan indra pengecap, 25 persen alami nyeri otot dan 21 persen alami sakit kepala.

Sakit kepala dan kelelahan sedikit bertambah sering terjadi pada orang dengan gejala ringan dibandingkan dengan mereka yang dirawat di rumah sakit, walaupun tidak di ICU.

Tapi, tidak ada cukup data untuk menyekat tingkat penyakit kesehatan moral dengan tingkat keparahan infeksi virus corona.

Para pengkaji menyarankan otak mungkin tersentuh dampak virus corona, karena bisa menyebabkan peradangan pada organ tubuh.

Namun, jadi juga kondisi ini ialah tekanan tambahan dari pandemi virus corona, sepeti kematian pekerjaan, kekhawatiran tentang kedudukan keluarga hingga keterbatasan interaksi sosial yang bisa mendatangkan masalah kesehatan mental.

Penuh faktor yang dapat berkontribusi pada gejala neurologis & kejiwaan pada tahap pangkal infeksi Covid-19, termasuk peradangan, gangguan pengiriman oksigen ke otak, dan faktor mental, ” kata Dr Rogers.

Dr Alasdair Rooney, lantaran University of Edinburgh, mengucapkan masalah neurologis dan mental ini sangat umum di pasien virus corona. Karena itu, layanan kesehatan moral dan rehabilitasi neurologi kudu diberdayakan untuk mengatasi urusan ini.