Jangan Salah, Kecanduan Seks Ternyata Bukan Suatu Diagnosis Psikiatri

jangan-salah-kecanduan-seks-ternyata-bukan-suatu-diagnosis-psikiatri-1

Dapatkan promo member baru Pengeluaran SDY 2020 – 2021.

Suara. com – Selama ini kita menduga kecanduan seks merupakan sebuah gangguan seksual. Tapi nyatanya, ini bukanlah analisis psikiatri yang diterima.

“Kecanduan ditentukan oleh bagaimana zat, perilaku, atau aktivitas mendatangkan reseptor dan respons penggagas tertentu, ” kata Ziv Cohen, seorang psikiater forensik dan klinis dan asisten profesor klinis psikiatri di Universitas Columbia.

Itu ialah bukti neurobiologis tentang kecanduan yang telah diamati dalam penjudi atau pecandu narkoba atau alkohol. Tetapi sebagian besar tidak ada dalam orang yang diidentifikasi jadi pecandu seks atau pornografi.

Karena alasan ini, kecanduan seks sebelumnya telah ditolak untuk dimasukkan dalam Petunjuk Diagnostik dan Statistik Kekacauan Mental American Psychiatric Association.

Membaca Juga: Sangga Wanita Tingkatkan Gairah Seks, Lakukan 5 Pengobatan Bersahaja Ini!

Buku itu merupakan pegangan para terlatih sebagai panduan otoratir di dalam mendiagnosis gangguan mental, dilansir CNN .

Ilustrasi bercinta. (Shutterstock)

Alasan mengapa ‘kecanduan seks’ bukanlah kecanduan

Gejala kecanduan meliputi gangguan kontrol atas perilaku, usikan sosial, penggunaan berisiko yang terus berlanjut meskipun ada risiko fisik dan lainnya yang jelas bagi pribadi.

Psikiater juga ragu buat menggolongkan tingkat seksualitas jadi patologis.

“Ada kekhawatiran kalau kita mengatakan ada segalanya yang disebut ‘kecanduan seks’, lalu banyak orang yang sebenarnya tidak memilikinya hendak mulai berpikir bahwa seksualitas mereka, dorongan seksual itu, tidak sehat, ” kata Paul Appelbaum, ketua Komite Pengarah DSM di APA.

Menyuarakan Juga: Waduh, Gejala Virus Corona Itu Bisa Turunkan Dorongan Seksi

Selain itu, sulit untuk mengetahui batasan antara dorongan seksual yang bugar dan tidak sehat. Tapi, dorongan seksual yang melanggar hak orang lain barangkali diklasifikasikan sebagai patologis.

“Tetapi jika hanya mengatakan kalau Anda memiliki dorongan syahwat tinggi, yang membuat Kamu menonton banyak pornografi ataupun membayar orang, lebih pelik untuk secara intrinsik mengecap hal itu sebagai patologis karena tidak terlibat dalam pelaggaran hak orang lain, ” tandas Cohen.