Deteksi Kanker Hati Sejak Dini dengan Pemantauan Rutin Hepatitis

Suara. com – Dalam laporan Global Cancer Incidence, Mortality and Prevalence (GLOBOCAN) 2018, dipaparkan bahwa di Indonesia, kanker hati secara keseluruhan memiliki nilai insidensi sebesar 18. 468 kejadian. Kanker hati juga merupakan penyebab kematian karena kanker peringkat ke-empat dengan angka prevalensi 5 tarikh yang rendah sebesar 14. 383 kasus.

Hepatoselular karsinoma merupakan salah satu tipe kanker hati primer dengan paling umum dengan perburukan penyakit yang sangat buruk serta level kematian yang tinggi.

Pada penelitian yang dikerjakan secara retrospektif antara Januari 2015 hingga November 2017 di dua rumah sakit yang memberikan penyajian onkologi di Jakarta, tercatat 282 pasien terdiagnosis hepatoselular karsinoma dimana 23, 4% pasien meninggal di dalam rentang waktu 6 bulan.

Di Nusantara, pasien dengan riwayat infeksi hepatitis memiliki risiko tinggi terhadap kanker hati. Dalam sesi IG Live yang diadakan Cancer Information Support Center (CISC), Sabtu (17/10/2020), pada rangka peringatan Bulan Peduli Kanker Hati di bulan Oktober, ahli penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, Dr. dr. Irsan Hasan, SpPD-KGEH, FINASIM menekankan pentingnya bagi pasien hepatitis untuk melakukan pemeriksaan secara rutin untuk dapat mendeteksi risiko kanker hati sejak stadium dini.

Baca Juga: Tiga Penemu Virus Hepatitis C Raih Nobel Kedokteran Tahun 2020

“Pasien dengan riwayat hepatitis B dan C memiliki risiko kanker hati lebih tinggi. Dari 100 pasien kanker hati, 60 pada antaranya akibat infeksi virus hepatitis, dan 40 karena fatty liver dan penyebab lain. Sementara itu, dari 60 pasien kanker miring yang disebabkan infeksi virus hepatitis, mayoritas atau sekitar 60-70% hepatitis B dan sisanya sekitar 30-40% hepatitis C, ” kara dr. Irsan.

Oleh karena itu, sangat istimewa bagi pasien hepatitis, khususnya hepatitis B dan C, untuk melakukan pemeriksaan rutin setiap 6 kamar sekali untuk dapat memantau perkembangan penyakit hepatitisnya dan mendeteksi efek kanker hati sejak dini.

Penanganan kanker hati yang dilakukan dengan ideal sejak stadium dini dapat memajukan harapan hidup secara bermakna. Selain itu, kini telah tersedia bermacam-macam pilihan terapi termasuk terapi target dan imunoterapi telah berkembang pada dunia dan beberapa di antaranya telah tersedia di Indonesia.

Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, dalam sesi tersebut, memaparkan pengalaman perjalanan penyakit kanker hati yang dialaminya. Dikatakan kalau dirinya  kanker hati yang diidapnya terlambat dideteksi dari infeksi hepatitis B yang dialaminya. Itu sebabnya, ia pun menekankan pentingnya menyelenggarakan pemeriksaan untuk mendeteksi hepatitis B agar tidak terlambat diobati & melakukan pemeriksaan rutin untuk mendeteksi risiko kanker hati.

“Pengalaman saya mengajarkan bahwa pemeriksaan kesehatan yang rutin di awal untuk mengetahui hepatitis B dan risiko kanker ganjil sangat penting, agar tidak terlambat dideteksi dan diobati. Karena terlambat diobati, saya bertahun-tahun berjuang melibas kanker hati sehingga pada kesimpulannya saya terpaksa untuk melakukan transplantasi hati. Oleh karena itu, beta mengimbau, selain kita harus melindungi pola hidup sehat, sangat penting juga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mengetahui risiko-risiko kesehatan kita agar dapat ditangani sejak awal, ” pungkasnya.

Baca Juga: Penemu Virus Hepatitis C Dihadiahi Nobel Kesehatan 2020